HADITH DI MATA ORIENTALIS (Studi Kritis Atas Pemikiran Ignaz Goldziher Tentang Penulisan Hadith)

14 03 2008

Oleh :

Siti Mahmudah Noorhayatie

(Dosen Ilmu Agama pada Sekolah Tinggi Tehnik IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Abstraks        

This articel discription abaut orientalish with interested  to studied Hadith. He  names Ignaz Goldziher, he Hungarian orintalish bird from yahudi family in1850 M. In this studies he skeptis and tendensius abaut Manusckrip Hadith . Goldziher perseption Hadith as product Islamic intelectual  and result Islamic Cultur and  religous sociaty.  This unautentik books, but  reflection doctrin from political develops in scond centucy propeth Muhammad dei. It adopted for idea yahudi . Then He critical reduction (Isse)  matan hadith with writed transmiters hadith unacured  so they more underline mening  only.

Kata kunci: Orientalis, Ignaz Goldziher, Otentisitas, Hadith, Tradisi, Penulisan, Penulisan Hadith, Nabi Muhammad Saw.

Pendahuluan

Hingga saat ini, hadith Nabi tidak henti-hentinya dikaji dan di pelajari secara serius, bukan hanya oleh kalangan Islam sendiri  tapi oleh para  islamisis dan orientalispun juga tertarik terhadap kajian tersebut. . Hal ini terjadi karena eksistensi hadith pada kenyataannya semakin mengundang banyak problematika di kalangan orientalis yang serius mengkaji hadith. Problematika tersebut dirasa semakin kompleks, ketika eksistensi hadith itu sendiri dalam banyak aspeknya berbeda dengan al-Qur’an, dimana al-Qur’an sebagai sumber otoritas pertama diriwayatkan secara mutawatir (qot’i> al-Wuru>d), sedangkan hadith sebagai sumber otoritas kedua diriwayatkan tidak secara mutawatir (dhoni> al-Wuru>d), karena secara historisitas penulisan ataupun pengkodifikasiannya relatif sangat jauh dari masa hidup Nabi[1]. Dari sinilah kemudian timbul penilaian-penilaian miring yang dengan sengaja menstereotipkan keberadaan hadith di mata umat Islam.

Ignaz Goladziher, orientalis yang telah melakukan kajian yang intens terhadap hadith. Metode yang digunakan Goladziher adalah historis-fenomenologis yang hanya ditujukan terhadap unsur matan hadits (teks), yang cakupannya adalah aspek politik, sains, maupun sosio kultural, tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan unsur sanad sampai kepada Nabi. Hal ini disebabkan oleh Goldziher yang secara tegas memang tidak menerima metode kritik sanad sebagai metode ilmiah. Kondisi yang demikian berbeda dengan para Muhaddithin umumnya menganggap bahwa kritik sanad lebih urgen dari pada kritik matan, sedangkan Ignaz dan sejarawan pada umumnya mementingkan kritik terhadap teks/matan, sebab Ignaz dan Sejarawan bergerak dengan asumsi bahwa sumber informasi tidak selamanya benar.Terlepas dari berbagai kelemahan kajian terhadap hadith yang telah dilakukan oleh Ignaz maupun orientalis, yang pasti, hal ini telah membawa nuansa baru dan cakrawala baru yang memperkaya khazanah kajian hadith Nabi.

Orientalis dan Orientalisme: Sebuah Pengantar           

Orientalisme adalah sebuah istilah yang berasal dari kata orient yang secara harfiah berarti timur. Kata ini secara geografis berarti dunia belahan timur, dan secara etnologis berarti bangsa-bangsa di timur.[2] Sedangkan oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat timur yang cakupannya amat luas. Sementara orientalis adalah ilmuwan Barat yang mendalami masalah-masalah ketimuran, yang di dalamnya tentang bahasa-bahasa, kesusastraan, peradaban dan agama-agama timur.[3] Namun terkadang penamaan orientalis hanya dibatasi kepada orang-orang yang mengkaji pemikiran Islam dan peradabannya. Dengan begitu, orientalisme dimaknai sebagai satu cara atau sikap mengenai hal-hal yang bersifat Timur,[4] yang secara terminologis biasanya identik dengan paradigma berpikir[5], pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara Timur (the Orient) dan Barat (the Occident).[6]            Dalam perkembangannya, fokus utama kajian orientalis adalah agama Islam dan bahasa Arab, karena keduanya merupakan faktor terbesar dari ketertarikan orientalis disamping gagasan, politik, dan theologi yang mewarnai kehidupan masa kini.[7] Dalam beberapa kajian,   mereka melakukan di bawah proyek besar orientalis dengan menjelajahi dunia Timur.[8]            Dalam kajian-kajian orientalis dengan berbagai diskursus studi keislaman ini, sebenarnya bisa diberi pengertian bahwa mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja menyerang keyakinan umat Islam dan mendiskreditkan Islam, sedangkan mempelajari tradisi Islam merupakan topeng  an sich. Pengertian ini didasarkan pada peristiwa Perang Salib, dimana bangsa Barat mengalami kekalahan atas bangsa Timur dalam memperebutkan kawasan Palestina, tempat ziarah kaum Nasrani, yang di menangkan tentara Islam pimpinan Salahuddin al-Ayubi (1169-1193).[9] Dari sinilah, orientalis kemudian tertuju kepada penjajahan dunia Islam, dengan berkedok menggali dan mempelajari khazanah Islam, yang muara akhirnya hanyalah untuk menghancurkan Islam..

            Hal ini tak lepas dari kesadaran mereka, bahwa Islam tidak bisa diperangi secara fisik sehingga mereka lebih memilih pada perang fikir. Lalu mengapa hadith dijadikan salah satu sasaran empuk mereka, hal ini berawal dari persepsi mereka yang mengatakan bahwa agama yang paling benar adalah agama Yesus bukan Islam, sementara al-Qur’an yang dijadikan pegangan umat Islam bukanlah wahyu. Selanjutnya Muhammad dijadikan referensi, dengan mencari titik kelemahan Muhammad sebagai individu bukan sebagai wahyu atau utusan.  Akhirnya, sebagai sumber otoritas kedua mereka-pun menelanjangi hadith, dalam kenyataannya mereka gagal menyerang dan meragukan al-Qur’an. Meminjam istilah Abdul Ra’uf, misi dari orientalis ini adalah penghancuran tradisi (destructio of the tradition).[10]

 Sketsa Biografis Ignaz Goldziher                

Nama lengkapnya adalah Ignaz Goldziher. Dia lahir pada tanggal 22 Juni 1850 di kota Hongaria. Dia Berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh yang sangat luas. Pendidikannya dimulai dari Budhaphes, kemudian melanjutkan ke Berlin dan Liepziq pada tahun 1869.[11]  Pada tahun 1870 dia pergi ke Syria dan belajar pada Syeikh Tahir al-Jazairi. Kemudian pindah ke Palestina, lalu melanjutkan studinya ke Mesir, dimana dia sempat belajar pada beberapa ulama al-Azhar. Sepulangnya dari Mesir, tahun 1873, dia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budhapes. Di Universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab dan menjadi seorang kritikus hadith paling penting di abad ke-19. Pada tanggal 13 Desember 1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes.[12] Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam, seperti menggoyang kebenaran hadith Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita  kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam. [13] 

Penulisan Hadith Prespektif Ignaz Goldziher           

 Diskursus tentang otentisitas hadith merupakan salah satu hal yang sangat krusial dan kontroversial dalam studi hadith. Hal ini karena perbedaannya dengan al-Qur’an yang telah mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya, sebagaimana firman Allah Swt dalam ayatnya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”[14] Maka secara normatif-theologis, hadith tidak mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya dari Allah Swt.             Ignaz Goldziher, sebagai orientalis yang kritis, tak lupa menyoroti point ini dengan menganggap negatif keberadaan hadith. Walaupun dia dikenal lebih skeptis dari pada Alois Sprenger (kritikus hadith pertama kali) dengan karyanya “Uber Das Traditionsweser Bei Dai Arabern“(1856)[15] dan Sir William Munir dengan karyanya life of  mahomet,[16] namun dalam beberapa hal, Goldziher mampu memberikan penilaian ataupun celaan seputar eksistensi dan validitas hadith tersebut.

            Namun dalam tulisan ini, hanya akan dibahas satu tema dari sekian banyak tema yang ada dalam karyanya yang cukup monumental “Muslim Studies, Muhammedanisce Studies” yang dipublikasikan pada tahun 1896.[17] Adapun tema yang akan dipaparkan adalah The Writing Down of Hadith, karena tema ini dianggap penting berdasarkan relevansi sebab-musabab (the cause) permasalahan munculnya penyerangan eksistensi hadith.

            Dalam bukunya, Muslim Studies, Ignaz Goldziher memaparkan tentang pemeliharaan hadith tertulis (Kita<ba al-H{adi<th) secara umum. Dia mengatakan bahwa kaum Muslimin klasik telah beranggapan bahwa hadith adalah ajaran lisan yang penulisannya dipandang tidak perlu, lain halnya dengan al-Qur’an, yang menurut Goldziher, penulisannya wajib dilakukan. Beberapa catatan atau pandangan Goldziher tentang hal ini adalah sebagai berikut :

            Pertama, Goldziher menganggap bahwa hadith merupakan produk kreasi kaum muslimin belakangan, karena kodifikasi hadith baru terjadi setelah beberapa abad dari masa hidup Nabi.[18] Lebih lanjut dia mengatakan bahwa hadith yang membolehkan penulisan (prases pengkodifikasian) lebih banyak dari pada pelarangan hadith yang lebih mengandalkan pada hapalan. Goldziher mengemukakan data yang mengindikasikan adanya penulisan hadith melalui periwayatan Abu Hurairah “Tidak ada seorangpun yang hafal lebih banyak hadith selain aku, Namun Abdullah Bin ‘Ash telah menuliskannya sedangkan aku tidak.” Satu fenomena lagi yang dijadikan justifikasi oleh Goldziher adalah bahwa Malik bin Anas pernah mengajar murid-muridnya dari teks-teks tertulis, sedangkan para pendengar menghafalnya dan kemudian Imam Malik mengoreksi dan menjelaskannya. Di samping itu, masih banyak lagi periwayatan-periwayatan yang dijadikan premis oleh Goldziher untuk menguatkan data tentang penulisan hadith ini.[19]

            Pergulatan pemikiran (ghazwu al-fikri<) yang berkisar pada wilayah boleh tidaknya penulisan hadith, merangsang Ignaz Goldziher untuk berkomentar, bahwasanya pelarangan itu merupakan akibat yang dibiaskan dari prasangka-prasangka yang muncul kemudian. Di antaranya adalah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Janganlah kamu menulis dariku kecuali al-Qur’an, dan barang siapa menuliskannya hendaknya dia menghapuskannya.”[20] Selain itu juga karena kekhawatiran akan mensakralkan tulisan, sehingga kata Goldziher, mereka lebih cenderung untuk tidak mengkoleksi catatan-catatan, sebagaimana yang dilakukan oleh agama-agama terdahulu (baca: Yahudi) yang mengabaikan ungkapan Tuhan tetapi justru mensakralkan ungkapan-ungkapan mereka.[21]

            Nampaknya Ignaz Goldziher sengaja mengutip banyak bukti periwayatan yang melegitimasi pelarangan ataupun pembolehan penulisan hadith. Terlepas apakah periwayatan-periwayatan tersebut mutawatir atau tidak, namun harus diakui bahwa orientalis, khususnya Ignaz Goldziher, sangat hebat dalam menelusuri data-data yang telah ada. Berikut data-data historis yang juga mendukung pelarangan penulisan hadith, yaitu: pada abad ke-3 H. (masa Imam Bukhori dan Muslim), Abu Ali al-Basri sangat memuji orang yang menghapal dan mengutuk orang yang menulis, karena menulis buku tidak akan bebas dari bahaya api, bahaya tikus, bahaya air dan bahaya pencuri yang akan mengambilnya. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Abu Sa’ad Abdul Rahman Bin Dost pada abad ke-4 H. Kemudian pada abad ke-6, penulisan hadith ini direkomendasikan oleh sejarawan terkemuka dari Damaskus, yaitu Abu al-Qosim Ibnu Asakir yang wafat pada tahun 521 H.[22]

            Kedua, Ignaz Goldziher menganggap bahwa hadith yang disandarkan pada Nabi Muhammad Saw dan para sahabat yang terhimpun dalam kumpulan hadith-hadith klasik bukan merupakan laporan yang autentik, tetapi merupakan refleksi doktrinal dari perkembangan politik sejak dua abad pertama sepeninggal Muhammad Saw. Baginya, hampir-hampir tidak mungkin bahkan setipis keyakinan untuk menyaring sedemikian banyak materi hadith, hingga dapat diperoleh sedikit sekali hadith yang benar-benar orisinil dari Nabi atau generasi sahabat awal.[23]

            Ketiga, Ignaz Goldziher sebagaimana H. A. Gibb dan W. Montgomery Watt, beranggapan bahwa tradisi penulisan hadith sebenarnya merupakan pengadopsian dari gagasan-gagasan besar agama Yahudi yang di dalamnya ada larangan atas penulisan aturan-aturan agama.[24] Namun ternyata pemahaman yang keliru tersebut masih juga mendapat dukungan dari sebagian kaum Muslimin sendiri walaupun bertentangan dengan fakta-fakta yang telah ada. Menurut Goldziher, dukungan kaum Muslimin ini sebenarnya tidak bisa terlepas dari kepentingan ideologis, karena kaum Muslimin tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Muhammad Saw mencatat riwayat-riwayat selain al-Qur’an serta tidak ada bukti bahwa penulisan hadith itu sudah terjadi sejak awal Islam.[25]

            Keempat, Ignaz Goldziher menyatakan bahwa redaksi/matan hadith yang diriwayatkan oleh perawi-perawi hadith dinilai tidak akurat, karena mereka lebih menitikberatkan pada aspek makna hadith sehingga para ahli bahasa merasa enggan menerima periwayatan hadith disebabkan susunan bahasanya tergantung pada pendapat perawinya.[26]

Analisis Kritis Pemikiran Ignaz Goldziher

            Untuk menanggapi beberapa anggapan yang dilontarkan Goldziher di atas, berikut ini akan dipaparkan catatan kritis sebagai counter dan analisis dengan menyuguhkan beberapa argument.

            Pertama, sejak awal munculnya Islam, Nabi Muhammad Saw memegang hak prerogatif keagamaan setelah Allah Swt, terbukti dengan dijadikannya beliau sebagai tempat rujukan dari masalah-masalah yang muncul di kalangan para sahabat dengan berbagai sabda dan perbuatannya, yaitu hadith. Dengan begitu, walaupun penulisan dan pengkodifikasian hadith baru dilakukan jauh dari kehidupan Nabi Muhammad Saw, bukan berarti autentisitas dan validitas hadith menjadi suatu yang diragukan, karena ulama belakangan berupaya secara serius dalam melakukan verifikasi, terbukti dengan banyak karya yang memuat kritik, baik dari segi sanad maupun matannya sebagai upaya membentengi hadith-hadith palsu.

            Pada pertengahan abad kedua, perhatian ulama lebih banyak tercurahkan pada penghimpunan hadits-hadits Nabi di luar fatwa sahabat dan tabi’in dalam bentuk musnad. Adapun kitab pertama adalah karya Abu> Da>ud al-Thaya>>lisi> dan musnad Ahmad bin Hanba>l. Penyusunan ini terus berlanjut dengan tersusunnya kitab “Kutu>b al-Sittah},” sementara pada generasi berikutnya lebih bersifat men-jarah  dan men-ta’dil kitab-kitab yang telah ada.[27].

            Muhammad ‘Ajjad al-Kha<tib menunjukan beberapa faktor yang menjamin kemurnian hadith. Pertama, adanya ikatan emosional umat Islam untuk berpegang teguh kepada segala sesuatu yang datang dari Nabi. Kedua, adanya tradisi hapalan dalam proses transmisi hadith. Ketiga, sikap kehati-hatian para muhaddith dari masuknya hadith palsu, ditunjang sikap selektifitas para muhaddith dalam tradisi periwayatan. Keempat, terdapatnya beberapa manuskrip yang berisi tentang hadith-hadith. Kelima, adanya majlis-majlis ulama dalam tradisi transformasi hadith. Keenam, adanya ekspedisi ke berbagai wilayah untuk menyebarkan hadith. Dan ketujuh, sikap komitmen para muhaddith dalam meriwayatkan hadith dengan didukung keimanan dan jiwa religiusitas yang tinggi.[28]

            Begitu juga Jhon L. Esposito menguatkan bahwa meskipun hadith pada mulanya disampaikan secara lisan, namun ada sebagian perawi yang mulai menuliskannya. Selanjutnya penghimpunan hadith bertujuan agar tidak merusak teks yang telah diterimanya dari para ahli yang telah diakui periwayatanya, dan penghimpunan ini mencerminkan kata-kata aslinya. Bahasanya langsung, dialogis, aktif repetitif, dan memakai ungkapan yang tegas. Literatur hadith merupakan contoh prosa terbaik dari prosa Arab di masa awal Islam.[29]             Sebab itulah, maka pelarangan  penulisan hadith sebagaimana yang dipaparkan oleh Ignaz Goldziher di atas bukanlah karena mengadopsi aturan-aturan agama-agama terdahulu. Argumen ini sangatlah tidak representatif dan terkesan sangat mengada-ada. Pelarangan penulisan di sini karena adanya kekhawatiran apabila hadith bercampur dengan al-Qur’an, sebab berdasarkan historisitasnya, biasanya jika para sahabat mendengar ta’wil ayat lalu mereka menuliskannya ke dalam sahifah yang sama dengan al-Qur’an.            Dan perlu diketahui, bahwa Ignaz mempunyai semangat yang sangat luar biasa dalam mencari titik kelemahan ajaran Islam, terutama berkaitan dengan hadith. Rupanya ia menjadikan hadith Abu< Sa’id al-Khudri sebagai dasar pijakan pelarangan penulisan hadith dan hadith Abu Hurairah sebagai dasar pijakan pembolehan penulisan hadith. Namun sayangnya, Goldziher menyikapi kedua hadith ini sebagai sesuatu yang kenyataannya saling bertentangan. Padahal menurut ilmu hadith, kedua hadith di atas dapat dikompromikan, yaitu dengan menggabungkan atau mentarjih keduanya, sebagaimana metode yang telah diterapkan oleh Yu>suf Qardha>wi>[30] dan Muhammad ‘Ajjad al-Kha<tib ataupun ulama-alama lain yang intens dalam ilmu hadith. Berangkat dari riwayat yang kontradiktif tersebut, maka Muhammad ‘Ajjad al-Khatib menawarkan solusinya dengan metode sebagai berikut:[31]1.      Bahwasannya hadith yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri adalah tergolong hadith yang mauqu>f, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.2.      Dengan metode al-jam’u wa al-taufi<q, larangan penulisan hadith berlaku khusus, yaitu apabila hadith ditulis dalam sahifah yang sama, sehingga ditakutkan akan terjadi iltiba<s (bercampurnya al-Qur’an dan al-hadith). Jadi, jika dilihat dari mafhu<m mukha<lafahnya, apabila ilat tersebut tidak ada, maka larangan tersebut tidak berlaku lagi.3.      Larangan penulisan hadith ini berlaku bagi para penghafal (huffa<dz) hadith yang sudah diketahui kuwalitas hafalannya, sehingga ditakutkan mereka akan tergantung pada teks-teks tertulis. Sebaliknya, penulisan hadith ini tetap berlaku bagi para sahabat yang tidak mampu menghafal dengan baik, seperti kasusnya Abu< Sya>h.4.      Larangan penulisan hadith ini bersifat umum, akan tetapi ada kekhususan bagi mereka yang mahir dengan tradisi membaca dan menulis, sehingga tidak ada kesalahan dalam menulis, seperti kasusnya Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.Jadi, penulisan hadith itu sebenarnya sudah ada sejak abad 1 H dan bahkan tidak ada perselisihan (kontradiksi) sampai akhir abad itu.Kedua, sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab sudah dalam keadaan maju dan berkebudayaan. Ketika para sahabat lebih mengandalkan hapalan mereka, bukan berarti tradisi tulis-menulis tidak ada sama sekali di lingkungan mereka, karena banyak bukti-bukti sejarah yang mendukung adanya tradisi tulis-menulis di awal Islam ini. Jadi, sejak masa pra Islam, tradisi tulisan-pun sudah banyak dikenal dalam pagan Arab, terutama di kalangan penyair, walaupun harus diakui mereka lebih membanggakan kekuatan hapalan dan menganggap tabu tradisi tulisan ini,[32] bahkan ketabuan itu juga berimbas pada penulisan hadith yang berlanjut pada periode tabi’in dan telah menjadi fenomena umum. Bukti lain adanya tradisi tulis menulis ini adalah bahwa di sekitar Nabi Muhammad Saw terdapat 40 penulis wahyu yang setiap saat siaga dalam melakukan penulisan.[33] Ada juga Sa’ad Ibn ‘Abdullah Ibn ‘Auf yang memiliki kumpulan hadith dari tulisan tangan sendiri.[34]

Bahkan M. M. Azami telah memaparkan secara rinci tentang bukti adanya tradisi tulis-menulis pada masa awal Islam.[35] Menurutnya, beberapa sahabat yang telah melakukan tradisi penulisan hadith, misalnya Ummu al-Mu’minin Aisyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin al-‘Asy, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi< Thalib.[36] Namun kesadaran umum kaum muslimin untuk menulis ini baru mencuat ke permukaan setelah terinpirasi oleh kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz, yang pada periode inilah, pentingnya penulisan hadith Nabi Muhammad Saw baru terasa. Fenomena ini juga diperkuat oleh statemen orientalis lainnya, seperti Fuad Seizgin yang telah memberi ulasan tentang problem autentisitas hadith. Menurutnya, di samping tradisi oral hadith, sebenarnya juga telah terjadi tradisi tulis hadith pada zaman Nabi Muhammad, kendatipun para sahabat sangat kuat hapalannya.[37]  

Ketiga, alasan Ignaz Goldziher di atas sangatlah tidak representatif, tidak jujur dan terkesan mengada-ada. Kalaupun Nabi Muhammad Saw mendapatkan pengetahuannya dari orang Yahudi dan Kristen, bukan berarti Nabi Muhammad Saw menjiplak gagasan Yahudi. Jika pada kenyataannya ada guru yang mengajari Nabi Muhammad Saw tentang ajaran-ajaran Yahudi, tentunya guru tersebut akan menggugat bahkan menolak mentah-mentah hadith Nabi Muhammad Saw itu.   

Keempat, tuduhan Ignaz Goldziher terhadap perawi hadith sangat tidak beralasan, karena pada kenyataannya tradisi periwayatan hadith terbagi menjadi dua, yaitu periwayatan bi al-lafdzi< dan periwayatan bi al-ma’na>. Jenis periwayatan yang kedua yang telah disorot oleh Ignaz Goldziher dengan argumennya bahwa perawi hadith yang menggunakan tradisi periwayatan bi al-ma’na> dicurigai telah meriwayatkan lafadz-lafadz yang dengan sengaja disembunyikan, sehingga redaksinya menjadi tidak akurat. Padahal, adanya tradisi periwayatan bi al-ma’na> ini dikarenakan sahabat Nabi Muhammad Saw tidak ingat betul lafadz aslinya. Dan yang terpenting bagi sahabat Nabi adalah mengetahui isinya atau matan yang terkandung di dalamnya. Di samping itu, tradisi ini tidak dikecam oleh Nabi Muhammad Saw, mengingat redaksi hadith bukanlah al-Qur’an yang tidak boleh diubah susunan bahasa dan maknanya, baik itu dengan mengganti lafadz-lafadz yang mura<dif (sinonim) yang tidak terlalu mempengaruhi isinya, berbeda dengan al-Qur’an sebab ia merupakan mu’jizat dari Allah yang mungkin digubah.[38] 

Penutup           

Tradisi lisan atau verbal dalam transmisi hadith tidak menafikan adanya tradisi tulis-menulis. Adanya fenomena pemalsuan hadith adalah akibat adanya intervensi pendapat-pendapat pribadi dan adanya kasus iltiba>s. Namun dari fenomena tersebut, melahirkan tradisi kritik hadith untuk mengecek validitas hadith. Di samping itu, dengan adanya formalisasi penulisan hadith pada abad ke-2 H, telah mengubah orientasi pemeliharaan hadith. Dan tradisi penulisan menghadirkan beberapa karya monumental yang memuat kumpulan hadith sebagai upaya selektif dari masing-masing tokoh yang telah menulisnya.            Kajian hadith di kalangan sarjana Barat terwakili oleh Ignaz Goldziher, ternyata masih diwarnai epistemologi klasik Barat yang dilandasi oleh sikap skeptis dan tendensius, walaupun diakui ada beberapa orientalis yang tidak bersikap demikian. Ignaz Goldziher cenderung termotivasi untuk membuktikan bahwa materi hadith bukanlah bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Disamping dia juga ingin membuktikan bahwa hadith tidak lebih dari hasil karangan tokoh-tokoh perawi hadith yang telah menyandarkannya kepada Nabi Muhammad Saw untuk dijadikan legitimasi keagamaan. Walaupun demikian, gagasan-gagasan yang telah dilontarkan oleh Ignaz Goldziher  juga ikut memberikan konstribusi berkembangnya wacana hadith sekaligus menggugah umat Islam untuk tidak terninabobokkan dengan hadith yang sudah ada secara instan. [*]


DAFTAR PUSTAKA 
Abdurrahman, M., “Ilmu Hadis Sebagai Sumber Pemikiran” dalam  Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jld. 4, Jakarta: PT Ichtiar baru Van Houve, 2002. 

Al-Kha>tib, Muhammad ‘Ajjaj, al-Sunnah Qabla al-Tadwi>n. Beirut: Da>r al-Fikr, 1989.   ________________________, Ushu>l al-Hadi>ts ‘Ulu>muhu> wa Mushthalahuh. Beirut: Da>r al-Fikr, 1989. 

Al-Maliki>, Muhammad ‘Alawi>, Mauqifu al-Muslim min al-Dira>sa>t al-         Istisyra>qiyah. Kairo: Mathba’ah Hasan, tt.     

Al-Sha>lih,  Shubhi>, ‘Ulu>m al-Hadi>s wa Muhadditsu>n. Beirut: Da>r al-‘Ilm li al-Mala>yi>n, 1988. 

Al-Qatta>n, Manna’ Khali>l, Maba>hits fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Beirut: Da>r al-Fikr, 1978. 

Azami, M.M, Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, terj. Ali Mustofa Yaquf Jakarta: Pustaka Firdaus,1994. 

Brown, Daniel, Islam Menyoal Relevansi Dalam Modern, terj. Jaziar Radianti dan Entin Sriani Muslim. Bandung: Mizan, 2000. Cet. I. 

Esposito, John L, Ensiklopedi Oxford dalam Islam Modern, terj. Eva Y.N. Dkk, jld. II, Bandung: Mizan. 2001. 

Goldziher, Ignaz, Muslim Studies, terj. C.R. Barber dan S.M. Sterm. London: 1971.   

Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten Surabaya: C.V. Faizan, tt.     

Juynboll, G.H.A, The Authenticity of The Traditions Literature. Leiden: 1969.                     

Al-Murshafi<, Sa’ad<, al-Mustasyriqu<n wa al-Sunnah, Kuwait: Maktabah al-Mana>r al-Islami kerja bareng Muassasah al-Rayyan. 

Mustaqim, Abdul, “Teori Sistem Isnad dan Otentisitas Hadith menurut Perspektif           Muhammad Mustafa Azami” dalam Fazlur Rahman dkk, Wacana Studi      Hadis Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

 Prasetyo, Hendro, “Pembenaran Orientalisme Kemungkinan dan Batas-batasnya,” dalam ISLAMIKA Jurnal Dialog Pemikiran Islam. Bandung: Mizan, 1994. 

Qardhawi, Yusuf, Bagaimana Memahami Hadits Nabi, terj. Muhammad al-Baqir, Cet. IV, Bandung: penerbit  Kharisma, 1999.  

Rahman, Fathur, Ikhtisar Mushthalah al-Hadis. Cet.I, Bandung: Pt al-Ma’rifat, 1974. 

 Said, Edward W., Orientalisme, terj. Asep Hikmat, Bandung: Pustaka, 1996. 

Al-Sufya>n, A<bir bin Muhammad, al-Mustasyriqu>n wa man Ta>bi’ahum wa Maiqufuhum min Staba>t al-Syari<‘ah wa Syumu>laha Dirasatan wa Tatbiqan, Makkah: Maktabaah al-Mana>rah, 1988. 

Sou’yb, Joesoef,  Orientalisme dan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1985. 

Suryadi, Rekontruksi Metodologi Pemahaman Hadits Nabi; dalam Jurnal Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadits. Jogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2001. 

Wizan, Adnan M., Akar Gerakan Orientalisme Dari Perang Fisik Menuju Perang Fikir, terj. Ahmad Rafiq Zainul Mun’im dan Fathurrahman, Cet. I,Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2003.  

Ya’kub, Ali Mustafa, Kritik Hadis, cet. II, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996 

Zaqzuq, Mahmud Hamdi>, al-Istishra>q wa al-Khalfi>yah al-Fikri>yah li al-Sira’ al-      Hada>ra, tt: tp, 1988. 

Al-Zaya>di, Muhammad Fathullah, al-Istisyra>q Ahda>fuhu wa Wasa>iluhu, Syiria-Libanon: Da>r Qutaibah, 2002. 

Zuhdi, Achmad DH, Pandangan orientalis Barat tentang Islam antara yang            menghujat dan yang memuji, Cet.I, Surabaya: Karya Pembina Swajaya,        2004. 



                [1] Suryadi, “Rekontruksi Metodologi Pemahaman Hadith Nabi,” dalam ESENSIA Jurnal Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadith (Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga, 2001), h. 95.
                [2] Joesoef  Sou’yb, Orientalisme dan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h. 1.
                [3] Mahmud Hamdi Zaqzuq, al-Istishra<q wa al-Khalfi<yah al-Fikri<yah li al-Sira<‘ al-Hada<ra (tt: tp, 1988), h. 24.
                [4] Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten (Surabaya: C.V. Faizan, tt.), h. 11. lihat juga dalam Muhammad Fathullah al-Zayadi, al-Istisyra>q Ahda>fuhu wa Wasa>iluhu (Syiria-Libanon: Da>r Qutaibah, 2002), h. 15.

                [5] Adnan M. Wizan, Akar Gerakan Orientalisme Dari Perang Fisik Menuju Perang Fikir, terj. Ahmad Rafiq Zainul Mun’im dan Fathurrahman (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2003), h. 1.

                [6]  Edward W. Said, Orientalisme, terj. Asep Hikmat (Bandung: Pustaka, 1996), h. 3.

                [7] Muhammad ‘Alawi< al-Ma<liki<, Mauqifu al-Musli<m min al-Dira<sat al-Istisyra<qiyah (Kairo: Mathba’ah Hasan, tt), h. 6-7. lihat juga dalam A<bir bin Muhammad al-Sufya>n, al-Mustasyriqu>n wa man Ta>bi’ahum wa Maiqufuhum min Staba>t al-Syari<‘ah wa Syumu>laha Dirasatan wa Tatbiqan (Makkah: Maktabaah al-Mana>rah, 1988), h. 1-4.

                [8] Edward W. Said, OrientalismeOp. Cit., h. 97.

                [9] M. Abdurrahman, “Ilmu Hadis Sebagai Sumber Pemikiran” dalam  Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, jld. 4 (Jakarta: PT Ichtiar baru Van Houve, 2002), h. 59. Bandingkan dengan Muhammad Fathullah al-Zayadi, al-Istisyra>q…Op. Cit., h. 25.
                [10] Hendro Prasetyo, “Pembenaran Orientalisme Kemungkinan dan Batas-batasnya,” dalam  ISLAMIKA Jurnal Dialog Pemikiran Islam (Bandung: Mizan, 1994), h. 101.
                [11] Achmad Zuhdi DH, Pandangan orientalis Barat tentang Islam antara yang menghujat dan yang memuji (Surabaya: Karya Pembina Swajaya, 2004), h. 142.
                [12] Ali Mustafa Ya’kub, Kritik Hadis, cet. 2 (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), h. 14.
                [13] Adnan M. Wizan, Akar Gerakan…Op. Cit., h, 10.
                [14] QS. al-Hijr (15) : 9.
                [15] Ignaz Goldziher, Muslim Studies, terj. C.R. Barber dan S.M. Sterm (London: 1971), h. 181.
                [16] Daniel Brown, Islam Menyoal Relevansi Dalam Modern, terj. Jaziar Radianti dan Entin Sriani Muslim, Cet. I (Bandung: Mizan, 2000), h. 111.
                [17] Daniel Brown, Islam…Ibid., h. 112.
                [18] M.M. Azami, Hadith Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, terj. Ali Mustofa Yaquf (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 3. lihat pula dalam Sa’ad al-Murshafi<, al-Mustasyriqu<n wa al-Sunnah (Kuwait: Maktabah al-Manar al-Islami kerja bareng Muassasah al-Rayyan), h. 37.

                [19] Ignaz Goldziher, Muslim…Op. Cit., h. 183.

                [20] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid., h. 183-184.

                [21] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid., h. 186

                [22] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid.

                [23] G.H.A. Juynboll, The Authenticity of The Traditions Literature: Discussion in Modern Egyp (Leiden: E.J. Brill, 1969), h. 100.

                [24] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid., h. 186.

                [25] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid., h. 182

                [26] Ignaz Goldziher, Muslim…Ibid., h. 187-188

                [27]  Shubhi> al-Sha>>lih, Ulu>m al-Hadi>s wa al-Muhhadtisu>n (Beirut: Da>r al-‘Ilm li al-Mala>yi>n, 1988), h. 47.
                [28]  Muhammad ‘Ajja<d al-Kha<tib, al-Sunnah Qabla al-Tadwi<n (Beirut: Da<r al-Fikr, 1989), h. 122.

                [29] John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford dalam Islam Modern, terj. Eva Y.N. Dkk, jil. II (Bandung: Mizan. 2001), h. 127.

                [30]  Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadits Nabi, terj. Muhammad al-Baqir, Cet. IV,  (Bandung: penerbit  Kharisma, 1999), h. 117.

                [31]  Muhammad ‘Ajjaj al-Kha>tib, Ushu<l al-Hadi<ts ‘Ulu<muhu wa Mushthalahhuh (Beirut: Da<r al-Fikr, 1989), h. 150-152.

                [32] Muhammad ‘Ajjaj al-Kha>tib, Ushul…Ibid., h. 140.

                [33] Manna’ Khali<>l al-Qatta><n, Maba><his fi> ‘Ulu><m al-Qur’a><n (Beirut: Da><r al-Fikr, 1978), h. 66.

                [34] Shubhi al-Sha>lih, Ulu>m…Op. Cit., h. 24.

                [35] Pemaparan Azami tentang tradisi tulis-menulis pada masa awal Islam ini, bisa dilihat dalam M.M. Azami>, Hadi>th…Op. Cit., h. 132.

                [36] M.M. Azami>, Hadi>th…Ibid., h. 31-32.

                [37] Statemen ini dikutip dari Abdul Mustaqim, “Teori Sistem Isnad dan Otentisitas Hadith menurut Perspektif Muhammad Mustafa Azami,” dalam Fazlur Rahman dkk, Wacana Studi Hadis Kontemporer  (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), h. 56.

                [38] Fatur Rahman, Ikhtisar Mushthalah al-Hadith, Cet.I, (Bandung: Pt al-Ma’rifat, 1974), h. 50.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: